PENGARUH KULTUR SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KARAKTER SISWA

Assalamualaikum waramatullahi wabarakatuh, alhamdulillah hari ini saya akan menuliskan sedikit pemahaman saya terhadap jurnal dan artikel yang saya baca. Jurnal tersebut berkaitan dengan kultur sekolah. Adapun judul dari jurnal yaitu ”IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KULTUR SEKOLAH PADA SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 GEDANGAN SIDOARJO” kultur sekolah ini sangat berpengaruh pada peningkatan karakter seorang anak. Melalui berbagai kegiatan yang tersusun secara sistematis. Pembahasan selanjutnya akan dibahas dibawah ini.



Kuktur sekolah merupakan bagian dari kegiatan yang implemntasikan pada setiap sekolah. Kultur sekolah sangat berpengaruh terhadap perbaikan dan peningkatan karakter peserta didik. Kultur sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah di mata masyarakat luas. Selain melalui mata pelajaran dan ekstrakulikuler. Kuktur sekolah dijadikan sebagai upaya untuk mengurangi perilaku-perilaku menyimpang di kalangan remaja yang sering terjadi, hal itu muncul akibat dampak negatif dari globalisasi. hal ini ditandai dengan menggejala di kalangan pelajar berbentuk “kenakalan”. Beberapa di antaranya adalah tawuran antar pelajar dan antar mahasiswa. Tawuran juga kerap dilakukan oleh antar pelajar seperti yang dilakukan oleh sekelompok pelajar. Bentuk kenakalan lain yang dilakukan pelajar adalah meminum-minuman keras, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba yang bisa mengakibatkan depresi bahkan terkena HIV/AIDS. Fenomena lain yang mencoreng citra pelajar dan lembaga pendidikan adalah maraknya gang pelajar dan gang motor. Perilaku mereka bahkan kerapkali menjurus pada tindak kekerasan yang juga meresahkan masyarakat dan bahkan memunculkan tindakan kriminal.

Berdasarkan berbagai permasalahan yang terjadi menunjukkan bahwa krisis moral yang dialami bangsa kita sudah sangat memprihatinkan, semua perilaku negatif di kalangan pelajar tersebut, jelas menunjukkan kerapuhan karakter yang cukup parah yang salah satunya disebabkan oleh kurang optimalnya pengembangan karakter di lembaga pendidikan di samping karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung.

SMA NEGERI 1 GEDANGAN SIDOARJO mengimplementasi kuktur sekolah ini sebagai upaya mengurangi masalah karakter pada peserta didik. Di SMA Negeri 1 Gedangan karakter diwujudkan dalam kegiatan antara lain: (1) Baca Tulis Al Qur’an dan shalat Jumat bersama di sekolah untuk meningkatkan ketaqwaan yang dilaksanakan setiap hari Jumat, perayaan hari-hari besar; (2) Tradisi salaman setiap bertemu dengan bapak ibu guru untuk menumbuhkan rasa hormat dan sopan santun pada orang yang lebih tua; (3) Pemberlakuan tata tertib lalu lintas yang baik di sekolah sehingga siswa yang tidak mengenakan kelengkapan dalam berkendara tidak diperbolehkan untuk memasukkan kendaraannya ke dalam area sekolah itu dilakukan agar siswa bersikap disiplin. Berdasarkan hasil angket diketahui bahwa kegiatan-kegiatan lain seperti upacara bendera selalu diselenggarakan oleh sekolah yang dinyatakan oleh 60 siswa (69,77%), diselenggarakannya perayaan hari besar nasional di sekolah yang dinyatakan oleh 43 siswa (50,00%), kegiatan bakti sosial kerapkali dilakukan sekolah yang dinyatakan oleh 77 siswa (89,53%) untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian siswa kepada orang lain, dan menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan untuk menumbukan perilaku peduli terhadap lingkungan yang dinyatakan oleh 55 siswa (63,95%)

Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter yang diimplementasikan melalui kultur sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan rutin, spontan, dan terjadwal. Namun hal tersebut tidak terlepas dari adanya kerjasama antara sekolah, guru dan siswa sehingga pembentukan karakter melalui kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara maksimal.

Wujud Kultur Sekolah di SMA Negeri 1 Gedangan

Wujud kultur sekolah dalam kegiatan sehari-hari di sekolah seperti tradisi salaman pagi. Tradisi salaman pagi adalah wujud percerminan sikap sopan-santun terhadap guru atau orang yang lebih tua dengan cara mencium tangan. Wujud kultur sekolah lainya yaitu kegiatan doa bersama sebelum dan setelah pelajaran yang dipimpin oleh salah satu siswa melalui pusat, pelaksanaan shalat Jumat pada setiap hari Jumat yang diikuti oleh seluruh siswa secara bergilir, kegiatan BTQ dan IMTAQ, adanya tata tertib sekolah bagi siswa dan guru untuk memenuhi kelengkapanya dalam berkendara sesuai dengan peraturan lalu lintas.

Adapun Implementasi pendidikan karakter melalui kultur sekolah tersebut dilakukan sekolah melalui kegiatan rutin. Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang sudah terjadwal dan dilaksanakan setiap hari seperti kegiatan salaman pagi. Setiap pagi, guru akan menyambut kedatangan siswa di depan sekolah untuk bersalaman dan hal tersebut sudah menjadi kultur sekolah yang dilaksanakan sejak lama. Hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan nilai sopan-santun pada diri siswa agar menghormati guru atau orang yang lebih tua. Keterlaksanaan nilai-nilai karakter yaitu religius sebesar 94% sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi nilai religius melalui kultur sekolah sudah sangat baik ditanamkan pada siswa. Selanjutnya nilai tanggung jawab dengan persentase 71% yang dapat diinterpretasikan bahwa ketelaksanaan nilai tanggung jawab yang diimplementasikan melalui kultur sekolah di SMA Negeri 1 Gedangan sudah baik. Sedangkan untuk nilai karakter jujur dinyatakan dalam tahap pencapaian persentase 69% sudah baik serta mulai berkembang.

Dalam hal ini sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian siswa karena di sekolah ini karakter ditanamkan. Mengimplementasikan karakter dalam kultur sekolah merupakan upaya untuk menanamkan nilai-nilai melalui keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kultur sekolah juga berperan dalam menentukan keberhasilan suatu sekolah.

Kultur sekolah menjadi solusi untuk meningkatkan pendidikan karakter anak.dengan adanya kuktur tersebut pihak sekolah lebih mudah menerapkannya pada peserta didik.berdasarkan peneltian ini bahwa pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu: (a) Kegiatan Rutin, dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas, berdo’a sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman; (b) Kegiatan spontan, dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi bencana; (c) Keteladanan, Merupakan perilaku, sikap guru, tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakantindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain; (d) Pengkondisian, penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kebersihan badan dan pakaian, toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak di sekolah dan di dalam kelas.

Berdasarjan penelitin diatas bahwasannya Dalam membangun kultur sekolah  tidak bisa melalui ceramah, slogan, atau himbauan saja . Perlu adanya kesungguhan dan komitmen yang kuat yang dilaksanakan secara konsisten dengan program-program aksi yang konkrit dengan strategi pengkondisian, pembiasaan, dan keteladanan, baik melalui pendekatan struktural maupun kultural. Pendekatan struktural denganmembuat kesepakatan berupa regulasi (peraturan, tata tertib, dsb.) yang mengikatsiswa, guru, dan seluruh warga sekolah lainnya, adanya program-program pembiasaan (habituasi)yang lambat laun akan menjadi budaya/karakter, sedangkan pendekatan kultural melalui interaksi dengan menanamkan nilai-nilai, sikap dan prilaku yang diintegrasikan pada setiap mata pelajaran dan/ataumelalui kegiatan ekstra kurikuler,dan yang terpenting dengan cara pembudayaan dengan keteladanan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya di sekolah.“Setiap sekolah mempunyai kultur, tapi sekolah yang sukses hanyalah sekolah yang memiliki kultur positif yang sejalan dengan visi dan misi pendidikan yang menjadi harapan dan cita-cita dari seluruh warga sekolah.

Dalam membangun kultur sekolah yang baik, sehat  dan positif perlu didasari oleh pengakuan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala apa yang dilakukan selalu diniatkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianutnya. Keyakinan dan nilai-nilai agama akan memberikan arahan untuk bekerja dan melakukan perbuatan yang diridhoiNya. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada warga sekolah agar segala perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada manusia semata tapi mendapatkan nilai lebih di mata Tuhan Yang Maha Esa.

Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan seyogyanya memiliki kultur sekolah yang positif agar secara terus menerus dapat meningkatkan mutunya. Kultur sekolah yang positif akan menyemaikan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan sehingga sekolah benar-benar dapat menjadi agen perubahan untuk menjadikan manusia Indonesia yang utuh, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kultur sekolah harus dibangun berlandaskan visi, misi dan tujuan sekolah dengan menerapkan manejemen partisipatif dan terbuka sehingga benar-benar dipahami dan dihayati oleh seluruh warga sekolah dan para pemangku kepentingan sehingga dapat diimplemntasikan secara ikhlas dan konsisten untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam visi dan tujuan sekolah. Jika diimplementasikan dengan baik dan konsisten, kultur sekolah dapat meningkatkan kualitasnya secara terpadu untuk kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal.

            Peningkatan mutu yang ingin dicapai melalui pengembangan kultur sekolah dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu melalui proses pembiasaan dan meningkatkan pembiasaan tersebut menjadi sebuah sistem.

Adapun sistematika yang dipakai dalam mengimplementasi kultur sekolah yaitu :

1.       Pembiasaan

          Pada pembiasaan  semua tingkal laku yang bernilai kemuliaan tersebut masih berupa tindakan yang memerlukan arahan, kontrol dan penyadaran dari orang lain. Contoh cara-cara  yang bisa dilakukan sekolah dalam membentuk pembiasan adalah :

a.       Sekolah menciptakan induk tata tertib

          Induk tata tertib adalah sebuah pola pengaturan terpadu yang mengkorelasikan segala macam tata tertib yang mengatur tugas perbagian di sekolah.

b.       Pembudayaan sopan santun

c.       Membangun kesadaran siswa, dll.

2.       Mengubah Pembiasaan Menjadi Sistem

          Untuk bisa melestarikan pembiasaan dan mengubahnya menjadi sistem ada beberapa contoh cara yang bisa ditempuh;

a.       Mengaplikasikan jiwa keteladanan

          Jiwa keteladanan yang harus teramati adalah adalah dari orang-orang penting di sekolah seperti kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru-guru senior.Tanpa kecuali tokoh-tokoh tersebut harus berperan aktif bagi terciptanya sistem bertingkah laku terpuji di sekolah

Dapat diambil kesimpulan bahwa sekolah adalah lembaga budaya yang tidak hanya memberikan pengajaran namun sangat penting untuk memberikan pendidikan kepada segenap warganya.  Para guru yang professional melakukan tugasnya untuk mengajar, mendidik, membimbing, melatih, menggerakan  bahkan mengarahkan para siswa agar kelak menjadi manusia yang cendikia, mandiri dan berbudi pekerti luhur. Diharapkan siswa kelak akan menjadi generasi yang akan ikut serta membangun dan dan memimpin bangsa. Sekolah sebuah organisasi dengan demikian perlu membangun kultur sekolah yang baik, sehat, dan positif.

Mungkin ini saja yang dapat dituliskan didalam blog ini semoga bermanfaat bagi yang membacanya

Sumber:

Uliana pipit, 2013. Implementasi Pendidikan karakter melalui kultur sekolah pada siswa kelas XI Di SMA Negeri 1 Gedangan Sidoarjo

Komentar