Memahami karakteristik peserta didik

 

    Assalamualaikum kawan-kawanku semuanya, selamat datang kembali untuk membaca blog yang saya buat . disini saya akan kembali menulis blog tentang “MEMAHAMI KARATERISTIK PESERTA DIDIK”. Semoga blog ini bisa dijadikan manfaat untuk kawan-kawan semuannya.

     Selanjutnya, sebelum kita masuk kedalam pembahasan, apakah kawan-kawan pernah mendengarkan kata karakteristik dan bahkan istilah dari peserta didik. Karena Kedua istilah ini menjadi pokok pembahasan pada blog ini.  tentunya kawan-kawan sudah tidak asing lagi mendengar istilah yang ada diatas, karena kita pernah mengalami dan hidup  didalam lingkungan sekolah. Baik itu sekolah dasar, sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Oleh karena itu kita tidak terlepas dari adanya karakteristik pada diri kita masing-masing sebagai peserta didik. karakteristik peserta didik ini bisa dilihat pada perilaku dan sikap. Baik dilingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.

     Nah, Seorang guru dalam proses perencanaan pembelajaran perlu memahami tentang karakteristik dan kemampuan awal peserta didik. Analisis kemampuan awal peserta didik merupakan kegiatan mengidentifikasi peserta didik dari segi kebutuhan dan karakteristik untuk menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku atau tujuan dan materi. Karakteristik peserta didik didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perorangan peserta didik yang ada pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, ketrampilan, psikomotorik, kemampuan kerjasama, serta kemampuan sosial (Atwi Suparman, 2001: 123).

     Disamping pemahaman karakteristik umum diatas, terdapat juga karakteristik khusus yang disebut dengan non konvesional yang meliputi kelompok minoritas (suku), cacat, serta tingkat kedewasaan. Hal ini berpengaruh pada penggunaan bahasa, penghargaan atau pengakuan, perlakuan khusus, dan metode strategi dalam proses pengajaran. Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta didik seperti latar belakang keluarga, ekonomi, tingkat hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencaan sistem pembelajaran.

     Ada dua karakteristik kemampuan awal peserta didik yang perlu dipahami oleh guru yakni: 1) Latarbelakang akademik

a.    Jumlah peserta didik

     Guru perlu mengetahui beberapa jumlah peserta didik yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah peserta didik akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media, waktu yang dibutuhkan, dan evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk mengetahui jumlah peserta didik maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.

b.    Latar belakang peserta didik

 Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta didik seperti latar belakang keluarga, ekonomi, tingkat hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencaan sistem pembelajaran.

c.    Indeks prestasi Indeks prestasi peserta didik juga menjadi penting untuk diketahui oleh guru, agar materi yangd diberikan sesuai dengan kemampuan:

· Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki.

· Bahkan peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama.

· Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasaan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki peserta didik. Untuk mengetahui indeks prestasi peserta didik dapat diperoleh melalui nilai raport sebelumnya atau seleksi kemampuan awal peserta didik yang diselenggarakan oleh lembaga.

d.   Keterampilan membaca

     Salah satu kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam belajar adalah ketrampilan membaca. Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat ketrampilan membaca peserta didik dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.

e.    Nilai ujian

     Nilai ujian Juga dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal peserta didik. Untuk memperoleh nilai ujian peserta didik perlu dilakukan kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang diampu oleh guru yang bersangkutan.

f.     Kebiasaan belajar/ gaya belajar

     Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam proses pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai oleh peserta didik. Dalam proses pembelajaran, banyak para peserta didik yang mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akantetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda.

     Pertama, peserta didik visual yaitu peserta didik yang belajarnya akan mudah dan baik jika melalui visual/penglihatan. Atau dengan perkataan lain modalitas penglihatan menjadi modal utama bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar ini. Peserta didik kelompok ini memiliki kesulitan jika pembelajaran dilakukan melalui presentasi verbal tanpa disertai gambar-gambar atau simbol visual. Peserta didik bergaya belajar visual memiliki kekuatan visual, sehingga seorang pendidik ketika melakukan proses pembelajaran perlu menggunakan strategi pembelajaran dan media yang dapat mempermudah proses belajar mereka. Misalnya guru ketika melakukan proses pembelajaran dapat menggunakan media visual seperti: gambar, poster, diagram, handout, powerpoint, peta konsep, bagan, peta, film, video, multimedia, dan televisi. Di samping itu peserta didik dapat diajak untuk melakukan observasi/mengunjungi ke tempat-tempat seperti: museum dan tempat-tempat peninggalan sejarah. Kegiatan lainnya dapat juga mengajak peserta didik untuk membaca buku-buku yang berilustrasi visual, menggunakan warna untuk menandai hal-hal penting dari isi bacaan. Kedua, Peserta didik auditori, yaitu mereka yang mempelajari sesuatu akan mudah dan sukses melalui pendengaran. Alat dria pendengaran merupakan modal utama bagi peserta didik bergaya belajar ini. Peserta didik yang bergaya belajar auditori akan menyukai penyajian materi pembelajarannya melalui ceramah danKetiga, Peserta didik dengan gaya belajar kinestetik, adalah peserta didik yang melakukan aktivitas belajarnya secara fisik dengan cara bergerak, menyentuh/meraba, dan melakukan. Peserta didik tipe belajar melalui anggota tubuhnya atau menggunakan fisik lebih banyak dari pada melihat dan mendengarkan, seperti senang bergerak/berpindah ketika belajar, mengoyanggoyangkan kaki, tangan, kepala, gemar/suka menulis dan mengerjakan sesuatu dengan tangannya, banyak menggunakan bahasa non verbal/bahasa tubuh, suka menyentuh sesuatu yang dijumpainya.

 

g.    Minat belajar

     Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi atau melihat tingkat antusias peserta didik terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.

    Untuk mengetahui apakah peserta didik memiliki minat belajar yang tinggi atau tidak sebenarnya dapat dilihat dari indikator minat itu sendiri. Indikator minat meliputi: perasaan senang, ketertarikan peserta didik, perhatian dalam belajar, keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, manfaat dan fungsi mata pelajaran. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas maka akan diuraikan dalam paparan berikut. Perasaan senang, seseorang peserta didik yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap mata pelajaran tertentu akan memperlihatkan tindakan yang bersemangat terhadap hal tersebut. Contohnya, peserta didik yang gemar dengan mata pelajaran Matematika, maka peserta didik tersebut akan merasa bersemangat dan terus mempelajari ilmu yang berkaiatan dengan Matematika, tanpa ada perasaan terpaksa dalam belajar. Ketertarikan peserta didik, ini berkaitan dengan daya gerak yang mendorong peserta didik untuk cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, dapat berupa pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri, Perhatian dalam belajar, perhatian atau konsentrasi dapat diartikan terpusatnya mental seseorang terhadap suatu objek. Peserta didik yang memiliki minat terhadap objek tertentu, maka peserta didik tersebut dengan sendirinya peserta didik tersebut memperhatikan objek tersebut. Contohnya peserta didik yang memiliki minat pada seni musik maka peserta didik tersebut akan memperhatikan ketika terdengar bunyi musik, bahkan gemar mendatangi konser-konser music. Peserta didik merasa lebih mudah dan bersemangat dalam belajar jika diiringi dengan alunan music.

h.   Harapan atau keinginan peserta didik

      Harapan atau keinginan peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.

 

     Faktor-faktor sosial

a.    Usia Faktor

 usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik peserta didik.

     Memahami usia peserta didik akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tertentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa. Dalam praktik pendidikan dikenal dengan istilah paedagogi dan andragogi. Pedagogi berasal dari bahasa membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan istilah andragogi kemudian dapat diartikan sebagai suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar.

b.    Kematangan (maturity) Kematangan juga dapat diartikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik peserta didik, dimana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia atau kesiapan peserta didik. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani (Wasty Soemanto, 1983: 22).

c.    Bakat- bakat istimewa Sebagaimana dipahami bahwa setiap peserta didik memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.

     Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa memahami usia peserta didik akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tertentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa. Interaksi antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik atau interaktif lewat proses belajar mengajar. Peserta didik tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari dengan menyatakan bahwa peserta didik sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar yang efektif. Dengan demikian memahami hubungan antar peserta didik bisa membantu para guru dalam mengembangkan pendekatanpendekatan belajar yang bertumpu kepada kerjasama peserta didik dalam proses belajar.

 

     SUMBER : Taufik Ahmad, 2019. Analisis Karakteristik Peserta Didik. STAI Bumi Silampari Lubuk linggauel-Ghiroh. Vol. XVI, No. 01. Februari

Komentar